Kesan Pertama

Hello!

Tanpa terasa sudah sebulan saya menjalani kehidupan di negeri paman sam ini sebagai mahasiswa.
Memang belum banyak hal yang saya alami, dan tentunya masih banyak lagi yang akan dipelajari, tapi saya ingin share sedikit mengenai hal yang paling membuat saya berkesan sejauh ini. Alhamdulillah teman-teman saya cukup membaur satu sama lain, meskipun secara kasat mata komunitas mayoritas terbagi tiga: US, India dan Cina. Ya, saya satu-satunya orang Indonesia di kelas ini. Bahkan orang Indonesia pertama yang mengambil master di jurusan ini.

Tidak terlalu panjang lebar, ada Lima hal yang menurut saya paling berkesan di awal-awal mengenal masyarakat di sini.

1. Work life balance
Ini hal yang menurut saya amat jarang saya lihat di negeri sendiri. Orang-orang di sini sangat menghargai efektivitas pekerjaan dan hiburan. Istilahnya: Work Hard, Party Harder :D
Saya akui teman-teman sekelas saya senang sekali mengadakan party, bahkan tidak cuma teman-teman, termasuk staff-staff fakultas juga sering mengadakan jamuan makan atau minum, yang di sini juga tak lain adalah bir. Namun jangan salah, di malam ini mereka party hingga jam 12 malam, besok paginya jam 8-9 pagi sudah di library untuk mengerjakan tugas. Bahkan tidak jarang saya melihat mereka sudah menyelesaikan tugas-tugas kuliah sedari awal, yaitu seminggu atau dua minggu sebelum deadline.

2. Be Social!
Bagi mereka, masyarakat amerika, hal terpenting pada saat berkumpul adalah BERBICARA. Bukan berkumpul bersama lalu masing-masing pegang gadget dan sibuk chattingan sendiri atau main game di iPad/iPhone sendiri. Beberapa kali saya diperingati untuk tidak menghiraukan telepon pada saat kita hang-out. Social Media murni hanya sebagai alat pelengkap hidup, bukanlah sebagai kehidupan sendiri.
Jangan heran jika teman-teman Amerika di sini jarang yang punya foto di facebook. Mereka punya hanya sebatas punya, malah tidak sedikit juga yang tidak memliki facebook. Jumlah pengguna facebook Amerika memang terbesar di dunia, tapi aktivitas di news feed masih lebih sering terlihat sibuk orang Indonesia.
Jika dibandingkan dengan di Indonesia, orang-orang Indonesia sangat keranjingan facebook, bahkan sudah menjadi kehidupan sendiri. Atau social media lain, Path, Twitter, atau apapun itu. Hal yang bisa kita pelajari, sebaiknya memang menganggap social media sebagai alat, jangan sampai terlalu diperbudak hingga merasa hidup di dalamnya.

3. On Time.
Kumpul jam 3PM. artinya mereka benar-benar sudah siap di ruangan kelas / lab atau di tempat makan tepat jam 3:00 PM. Yap, Tiga nol nol. Bukan tiga lebih lima, bukan tiga lebih sepuluh. Setiap menit amat berarti. Bukan berarti kumpul jam 3, datang jam setengah 4 atau bahkan jam 5 yang sering terjadi di Indonesia. Menurut saya ini pelajaran yang paling bagus. Supaya kita selalu bisa tepat waktu.

4. Straightforward
Berbicara dengan lantang, singkat padat dan jelas. Tidak ‘mbulet’ atau ‘muter-muter’ adalah gaya berbicara di sini. Untuk yang baru awal-awal mengenal, mungkin memang terkesan sombong atau angkuh, kesannya seperti marah tapi sebetulnya tidak. Sebaliknya, mereka hanya berbicara sejelas mungkin.
Bukan yang sok pintar berbicara panjang lebar dan menggunakan istilah aneh-aneh “strukturisisasi” atau “harmonisisasi” seperti orang yang mengaku-ngaku kuliah di Amerika tapi bahasanya jadi ngawur begitu.
Sangat to the point dan terstruktur.

5. Open Minded, it’s a free country!
Banyak yang bilang, masyarakat amerika banyak yang anti-islam dan sejenisnya. Sama sekali tidak benar. Bahkan, toleransi di sini terbilang cukup tinggi. Apapun yang kita lakukan selama tidak mengganggu orang lain, ya silakan saja. Kita kumpul-kumpul party, lalu memilih untuk tidak minum bir sementara yang lain minum, ya tidak masalah. Semua sangat terbuka dan sudah terbiasa menerima komunitas dari luar Amerika. Oleh karena itu mereka maklum. Agama apapun, mau atheis, ya silakan saja melaksanakan keyakinannya selama tidak mengganggu keyakinan orang lain. Tidak seperti kita di Indonesia yang terlalu disibukkan mengurusi bentrok antar agama atau demo terang-terangan melarang Miss World mengatasnamakan agama.

One thought on “Kesan Pertama”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>